Menyaksikan orang-orang di lingkungannya, pedagang makanan keliling, pedagang pasar, hingga pengumpul sampah berseliweran tanpa pelindung diri masker,  menimbulkan kegelisahan tersendiri bagi owner Crushbie Batik.

“Kegelisahan kami adalah jangan sampai kewaspadaan melindungi diri dari wabah COVID-19 hanya dimiliki kalangan tertentu, yang mudah mengakses sosial media ataupun memiliki dana cukup untuk membeli sebuah masker. Terlebih saat ini masker hilang dari pasaran,” ungkap Pradani Ratna, Owner Crushbie Batik.

Kegelisahan itu diwujudkan dengan memutuskan membuat masker kain, untuk dibagikan secara cuma-cuma (gratis) kepada orang-orang di sekelilingnya. Orang-orang yang betul-betul butuh namun tidak dapat membelinya oleh sebab berbagai alasan.

Bertindak profesional

Tidak tanggung-tanggung. Team Crushbie Batik bertindak profesional. Mulai mempelajari tingkat keamanan penggunaan masker kain pun dilakukan. Demikian pula mencari pola masker yang cocok dan betul-betul berfungsi sebagai alat pelindung diri menjadi bagian yang tidak kalah penting.

Pernyataan Ahli Kesehatan Masyarakat Filipina, Esperanza Cabral di laman CNN Indonesia (4/3), bahwa masker kain dapat digunakan berulang kali asalkan selalu dicuci dengan sabun dan air setiap harinya, memantapkan keputusan Crushbie Batik.

Memang kain tidak seefektif masker medis, namun tetap better than nothing (lebih baik dari pada tidak ada). Salah satu kelebihan masker ini adalah bisa digunakan berulang kali selama dicuci setiap kali usai dipakai.

Sabtu (21/3) team mulai mengolah kain-kain dan tali elastik sisa produksi untuk menjadi masker kain. Pola dicari dari internet, diuji coba hingga paling nyaman dan praktis dikenakan.

Hari itu team berhasil menjahit 40 lembar masker kain. Masker ini terbuat dari katun sprei yang dijahit dalam dua lapis.  Hari itu juga masker dibagikan kepada 20 orang yang berada di sekitar workshop. Masing-masing orang mendapatkan dua lembar, agar dapat digunakan bergantian setiap harinya. Disertai dengan kartu petunjuk penggunaan, menggunakan bahasa paling sederhana agar mudah dipahami.

Dengan petunjuk tersebut diharapkan penerima manfaat menjadi teredukasi tentang pentingnya melindungi diri dengan masker, sekaligus merawat masker.

Ternyata respon positif dari penerima manfaat, kolega dan rekanan, diterima team Crushbie Batik. “Respon positif dan antusiasme para penerima, serta kolega dan rekan, membuat kami lebih bersemangat mengolah lebih banyak pada esok harinya,” ujar Pradani.

Difabel, Medis, teller

Gerakan donasi dari beberapa teman dekat dengan cepat didapatkan. Pada saat bersamaan, mendapat permintaan masker dari para perawat di RSUD dan teller bank di wilayah Jogja bagian barat. Orang-orang untuk bertugas harian mereka.

Tuntutan harus bekerja di tengah pandemi Corona namun hanya mendapatkan satu jatah masker medis, atau bahkan tidak dapat sama sekali, menggerakan team Crushbie Batik memproduksi masker untuk umum.

“Tetap dengan prinsip bahwa masker ini adalah masker gratis. Bila ada yang mau membeli, maka nilai pembelian akan menjadi donasi silang untuk diberikan ke pihak lain yang butuh masker,” terang pelestari budaya kain tradisional ini.

Hingga hari ini (28/3) team Crushbie Batik memproduksi 1361 buah masker. Total terdistribusi adalah 783 buah masker. Melalui rekanan yang berada di Wirobrajan Yogyakarta, beberapa masker sudah dibagikan kepada beberapa difabel tuli, down syndrome serta keluarga mereka.

Namun demikian bukan tanpa tantangan. Terbatasnya persediaan tali elastik, salah satunya. Banyaknya pesanan, menjadi tantangan berikutnya dalam memprioritaskan siapa dulu yang harus dibuatkan dan dikirim. “Saat satu titik terpenuhi, tiba-tiba ada pesanan mendesak dari pihak yang darurat butuh. Ini tantangan bagi team,” terang pemilik Crushbie Batik.

Adapun Crushbie Batik berkantor dan berproduksi di Jl. Namburan Lor No.1, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55131. Dengan nomer telepon: 0812-2727-9360. 

Reporter: harta nining wijaya


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *