Sejumlah tokoh organisasi difabel Indonesia lakukan diskusi merespons ancaman Covid – 19. Diskusi tersebut berlangsung secara online melali aplikasi zoom pada jumat (27/3) pekan lalu.

Web diskusi (webkusi) yang diinisiasi oleh Joni Yulianto, Cucu Saidah, Ishak Salim, dan Edy Suprianto tersebut membahas tentang sharing masalah / kekhawatiran terkait Covid-19, membagi inisiatif-inisiatif yang  sedang / akan /perlu dilakukan,  menyepakati kebutuhan dan prioritas bersama, serta bagaimana hal tersebut akan diupayakan.

Edy Supriyanto dari SEHTI mengungkapkan bahwa pihaknya aktif melakukan sosialisasi dan mengklarifikasi informasi yang keliru.
Ada Koordinasi dengan DINKES dan Gugus Tugas untuk sosialisasi, menyederhanakan pedoman WHO dan menyampaikan ke teman-teman difabel. Memobilisasi kawan-penjahit difabel untuk produksi ADB.

Sementara Lutfi dari Enrekang mengatakan Di Enrekang self-isolation & social distancing cukup berjalan. Banyak kegiatan publik ditiadakan.
Dampak pada difabel sudah mulai dirasakan, terutama mereka yang bekerja di sektor informal, e.g. pemijat, pedagang dll. Tidak ada pelanggan yang berdampak pada hilangnya pemasukan ekonomi.

Sementara itu, beberapa inisiatif juga sudah dilakukan. Seperti yang dilakukan Bias, relawan JBI dari Surakarta bercerita bahwa Tuli belum Banyak memperoleh informasi yang tepat. Bahkan ada yang memviralkan ‘tidak perlu takut dan tidak perlu di rumah.
DVO menginisiasi call center untuk tuli (VCall), dan menjangkau seluruh Indonesia.

Ishak Salim mengungkapkan bahwa PERDIK juga sedang menggalang donasi untuk diberikan Kepada mereka yang rentan dari komunitas difabel di Makassar.

Pertemuan Webkusi tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan seperti: Webkusi akan dibuat rutin 2×1 minggu.
Pada pertemuan berikutnya, diharaplan kawan-kawan DPO sudah ada agenda yang direncanakan untuk dilaksanakan di daerahnya masing-masing.

Notulensi.pdf

Kategori: Informasi

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *