Pada Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mendeklarasikan sebuah wabah penyakit yaitu coronavirus, atau COVID-19, sebagai pandemi, dikarenakan kecepatan dan skala transmisi dari virus ini ke seluruh dunia

WHO dan otoritas kesehatan masyarakat di seluruh dunia mengambil tindakan untuk mengatasi wabah ini. Kelompok populasi tertentu, seperti difabel atau disebut Penyandang Disabilitas dalam regulasi, dapat terkena dampak lebih signifikan oleh COVID-19.[1] Dampak ini dapat dikurangi jika tindakan sederhana dan perlindungan diambil oleh semua pemangku kepentingan.

TINDAKAN UNTUK DIFABEL DAN ANGGOTA KELUARGANYA

Kurangi Potensi Terpapar COVID-19

Setiap difabel dan anggota keluarganya harus mengikuti Panduan WHO tentang tindakan perlindungan dasar selama wabah COVID-19 berlangsung. Jika Anda mengalami kesulitan dalam mengikuti panduan ini (misalnya, Anda tidak dapat menggunakan baskom atau wastafel untuk mencuci tangan secara sering dan teratur), berupayalah bersama keluarga, teman, dan atau pendamping Anda untuk beradaptasi.

  • Hindari lingkungan yang penuh sesak semaksimal mungkin dan minimalkan kontak fisik dengan orang lain. Pertimbangkan untuk mengunjungi orang lain di luar periode waktu sibuk. Ambil kesempatan dari jam buka khusus bagi difabel jika ada.
  • Membeli barang secara online atau meminta bantuan kepada keluarga, teman, atau pendamping agar tidak perlu mengakses kerumunan atau keramaian.
  • Siapkan keperluan yang mendesak seperti makanan, alat dan bahan pembersih, obat-obatan atau persediaan medis untuk mengurangi frekuensi mengakses tempat-tempat umum.
  • Bekerja dari rumah jika memungkinkan, terutama jika Anda biasanya bekerja di lingkungan yang sibuk atau ramai.
  • Pastikan bahwa alat bantu, jika digunakan, didesinfeksi (disemprot dengan desinfektan) secara berkala; ini termasuk kursi roda, kruk, walkers, papan transfer (transfer boards), tongkat orang buta (white canes), atau produk lain apa pun yang sering digunakan di ruang publik.

Susun Rencana untuk Memastikan Kelanjutan Perawatan dan Dukungan yang Anda Butuhkan

  • Jika Anda mengandalkan pendamping (asisten pribadi), pikirkan beberapa orang yang dapat Anda hubungi sewaktu-waktu jika diperlukan dan apabila diharuskan untuk mengisolasi diri.
  • Jika Anda memperoleh pendamping melalui agen, cari tahu apa langkah-langkah darurat yang mereka miliki untuk mengompensasi potensi kendala dalam hal pendampingan. Anda mungkin ingin berbicara dengan keluarga dan teman tentang dukungan tambahan apa yang dapat mereka berikan, dan skenario di mana Anda mungkin perlu menelepon mereka.
  • Cari organisasi yang relevan di komunitas Anda yang dapat anda hubungi jika memerlukan bantuan.

Jika Anda Terpapar COVID-19, Persiapkan Keluarga Anda

  • Pastikan orang-orang di rumah Anda, termasuk teman-teman dan keluarga yang Anda percayai, mengetahui informasi penting apa pun yang dibutuhkan jika Anda terlihat kurang atau tidak sehat. Informasi ini bisa tentang asuransi kesehatan Anda, obat-obatan Anda, dan kebutuhan akan tanggungan Anda (anak-anak, orang tua lanjut usia atau hewan peliharaan).
  • Pastikan semua orang di rumah Anda tahu apa yang harus mereka lakukan jika Anda terpapar COVID-19 atau memerlukan bantuan.
  • Jika mereka belum dapat terhubung, cari orang melalui jaringan pendukung sehingga mereka dapat berkomunikasi secara efektif jika Anda merasa tidak sehat.
  • Ketahui nomor telepon layanan kesehatan yang relevan dan jaringan siaga (hotline), jika Anda memiliki pertanyaan atau ingin meminta bantuan medis yang tidak mendesak.

Kesehatan Mental dan Fisik Anggota Rumah Tangga dan Asisten Pribadi

  • Ikuti panduan WHO tentang pertimbangan kesehatan mental dan panduan untuk mengelola penyakit tidak menular yang ada sekarang (akan datang) selama wabah COVID-19 .
  • Jika ada orang di rumah Anda yang memiliki gejala virus, maka ia perlu diisolasi dan wajib dipakaikan masker, dan melakukan uji kesehatan sesegera mungkin. Semua permukaan harus didesinfeksi, dan semua orang di rumah perlu dipantau dari gejala-gejala penularan virus ini. Jika memungkinkan, siapa pun dengan kondisi kesehatan tertentu atau yang menurunkan kekebalan tubuh (imunitas) perlu dipindahkan di lokasi tersendiri sampai masa isolasi berakhir.

TINDAKAN UNTUK PEMERINTAH

Memastikan Informasi dan Komunikasi Kesehatan Masyarakat dapat Diakses

  • Sertakan teks dan, jika memungkinkan, bahasa isyarat untuk semua acara dan model komunikasi yang disiarkan langsung maupun direkam. Ini termasuk pidato nasional, siaran pers (pers briefings), dan siaran langsung media sosial.
  • Mengonversi materi publik ke dalam format yang “Mudah Dibaca” sehingga materi tersebut dapat diakses oleh difabel intelektual atau kognitif.
  • Mengembangkan produk informasi tertulis yang dapat diakses dengan menggunakan format dokumen yang sesuai, (seperti “Word”), dengan judul yang terstruktur, cetak besar, versi braille dan format untuk multi-difabel, seperti difabel visual sekaligus difabel komunikasi atau penyandang disabilitas netra-rungu.
  • Sertakan keterangan untuk gambar yang digunakan dalam dokumen atau sosial media. Gunakan gambar yang inklusif dan tidak menstigmatisasi difabel.
  • Bekerja dengan organisasi disabilitas (DPOs), termasuk badan advokasi dan penyedia layanan disabilitas untuk menyebarluaskan informasi kesehatan masyarakat.

Targetkan Langkah-Langkah yang Perlu Diambil untuk Difabel dan Jaringan Pendukung Mereka

  • Bekerja dengan difabel dan Lembaga perwakilan mereka untuk mengidentifikasi langkah-langkah fiskal dan administratif dengan cepat, seperti:
  • Kompensasi finansial untuk keluarga dan asisten pribadi yang perlu meluangkan waktu cuti untuk merawat orang yang dicintai. Ini bisa termasuk membayar anggota keluarga atas bantuan yang diberikan selama jam kerja normal untuk jangka waktu yang dibatasi.
  • Kompensasi finansial bagi keluarga dan asisten pribadi atau pendamping yang menjadi bagian dari pekerja difabel dan wiraswasta, yang mungkin perlu mengisolasi diri, dan berangkat bekerja dapat memperbesar risiko terinfeksi virus bagi difabel.
  • Menerapkan kebijakan Kerja-Dari-Rumah (WFH, Work From Home) yang fleksibel, dengan kompensasi finansial untuk alat bantu atau teknologi yang diperlukan untuk bekerja di rumah.
  • Dukungan keuangan (umumnya dalam paket stimulus ekonomi yang lebih luas) yang mencakup difabel, seperti pembayaran lumpsum (penuh) bagi yang memenuhi syarat, keringanan pajak, subsidi barang dan/atau kelonggaran atas penunggakan biaya-biaya umum.
  • Kebijakan yang tepat dari pihak sekolah dan fasilitas pendidikan lainnya demi memastikan keberlanjutan pendidikan bagi pelajar difabel yang mungkin perlu belajar di rumah untuk waktu yang lebih panjang.
  • Penyediaan jaringan siaga (hotline) dalam berbagai format (misalnya telepon dan email) bagi difabel untuk berkomunikasi dengan pemerintah, mengajukan pertanyaan, dan keprihatinan.

Targetkan Langkah-Langkah yang Perlu Diambil untuk Penyedia Layanan Difabel

Bekerja dengan penyedia layanan disabilitas untuk mengidentifikasi kelanjutan pelayanan dan akses prioritas ke peralatan perlindungan:

  • Pastikan lembaga yang menyediakan asisten atau pendamping disabilitas memiliki rencana berkelanjutan untuk situasi di mana ketersediaan jumlah pendamping dapat berkurang.
  • Bekerja dengan penyedia layanan disabilitas untuk mengurangi hambatan birokrasi dalam perekrutan sambil tetap memperhatikan langkah-langkah perlindungan, seperti pemeriksaan polisi untuk pendamping.
  • Pertimbangkan bantuan keuangan jangka pendek bagi pelayanan disabilitas untuk memastikan mereka masih bisa bertahan secara finansial jika mereka mengalami penurunan dalam usaha mereka.
  • Menyediakan jaringan siaga (hotline) sebagai layanan disabilitas untuk berkomunikasi dengan pemerintah dan menyampaikan keprihatinan.
  • Prioritaskan agen pendamping difabel untuk mendapatkan akses gratis untuk alat pelindung diri, termasuk masker, celemek, sarung tangan dan pembersih tangan (hand sanitizer).
  • Pastikan bahwa pendamping difabel memiliki akses ke Test COVID-19 sama halnya kelompok prioritas lain yang teridentifikasi.

TINDAKAN UNTUK PETUGAS LAYANAN KESEHATAN

Pastikan Layanan Kesehatan COVID-19 Dapat Diakses, Terjangkau, dan Inklusif

  • Ikuti Panduan WHO untuk petugas kesehatan selama wabah COVID-19
  • Berusahalah memastikan semua klinik yang menyediakan uji dan layanan terkait COVID-19 sepenuhnya dapat diakses difabel. Atasi hambatan fisik (seperti jalur yang tidak rata, tangga, ruang yang sulit dijangkau atau peralatan yang sulit digunakan); hambatan sikap (seperti stigma sosial terhadap difabel  dan penolakan untuk layanan khusus); dan hambatan finansial (seperti biaya tinggi terkait perawatan atau akses fasilitas—akomodasi yang layak). Pastikan informasi tentang aksesibilitas layanan kesehatan COVID-19 disebarluaskan ke para difabel dan asisten atau pendamping mereka (termasuk menyediakan format bahasa isyarat).
  • Sampaikan informasi dalam format yang dapat dimengerti dan sesuaikan format untuk kebutuhan yang beragam. Jangan hanya mengandalkan pada informasi verbal atau tertulis, dan gunakan cara berkomunikasi yang dapat dimengerti oleh difabel termasuk yang memiliki kemampuan  berbeda terkait intelektual, kognitif dan psikososial.
  • Berikan konsultasi rumahan untuk difabel, termasuk untuk kebutuhan kesehatan pokok mereka dan, jika sesuai, untuk kebutuhan terkait COVID-19.
  • Mengembangkan dan menyebarluaskan informasi kepada petugas kesehatan sehingga mereka sadar akan konsekuensi kesehatan dan sosial yang potensial dari COVID-19 terhadap difabel.
  • Memberikan dukungan yang memadai terhadap difabel dengan kebutuhan yang lebih kompleks, terutama jika dikarantina atau diisolasi. Jika dibutuhkan, koordinasikan perawatan antara layanan kesehatan dan layanan sosial, keluarga, dan pendamping.

Berikan Telehealth (Dukungan Komunikasi terkait Kesahatan) bagi Difabel

  • Menerima jasa konsultasi via telepon, pesan teks, dan video konferensi dalam distribusi layanan kesehatan bagi difabel. Ini bisa untuk memantau kondisi kesehatan mereka secara umum, dan termasuk kebutuhan rehabilitasi dan, jika perlu, kebutuhan terkait COVID-19.

TINDAKAN UNTUK PENYEDIA LAYANAN DISABILITAS

Meningkatkan dan Menerapkan Rencana Pelayanan Berkelanjutan

  • Rencanakan skenario dimana tenaga kerja terbatas, dan tentukan tindakan meningkatkan staf administrasi dan teknis, serta para pendamping, jika perlu.
  • Tentukan tindakan dan berkerja dengan pemerintah untuk mengurangi hambatan birokrasi dalam perekrutan, sambil terus menjaga langkah-langkah perlindungan, seperti pemeriksaan polisi untuk pendamping.
  • Adakan pelatihan tambahan dan jika memungkinkan, buat modul online untuk mempersiapkan tenaga kerja baru dan mereka yang akan mengambil peran lebih luas.
  • Bekerja dengan lembaga disabilitas dan pendamping setempat lainnya untuk menentukan prioritas siapa yang paling membutuhkan layanan disabilitas dan siapa yang masih dapat bertahan untuk menunggu.
  • Identifikasi klien yang paling rentan terhadap menurunnya pelayanan.

Komunikasi secara Berkala dengan Difabel dan Jaringan Pendukung Mereka

  • Menyediakan informasi target tambahan pada COVID-19, menyoroti informasi yang relevan bagi para difabel dan jaringan pendukung mereka. Informasi ini boleh termasuk informasi tentang rencana kesinambungan; nomor telehealth dan hotline; lokasi layanan kesehatan yang dapat diakses; dan lokasi di mana pembersih tangan (hand sanitizer) atau peralatan sterilisasi dapat diakses saat persediaannya sedikit, atau dalam situasi di mana mungkin diperlukan untuk mengisolasi diri.
  • Gunakan berbagai platform komunikasi seperti panggilan telepon, teks dan media sosial untuk berbagi informasi, dan ganti informasi ke dalam format yang dapat diakses.

Mengurangi Potensi Paparan COVID-19 Selama Pemberian Layanan Disabilitas

  • Menyediakan pelatihan, dan dengan cepat meningkatkan tenaga kerja perawatan disabilitas mengenai pengendalian infeksi.
  • Pastikan pendamping dan penyedia layanan disabilitas memiliki akses ke alat pelindung diri termasuk masker, sarung tangan dan pembersih tangan; pertimbangkan untuk meningkatkan jumlah pesanan untuk produk-produk ini.
  • Memberikan layanan disabilitas yang tepat melalui konsultasi berbasis rumahan atau melalui platform serupa seperti yang digunakan dalam telehealth.

Dalam pengaturan tempat tinggal, pertimbangkan:

  • Jam kunjungan untuk mengurangi risiko infeksi, seperti waktu kunjungan yang tiba-tiba, sehingga staf dapat memantau dan membersihkan secara lebih efektif, sementara mempertimbangkan dampak potensial pada kesehatan mental penghuni rumah;
  • Penerapan langkah-langkah pengendalian isolasi dan infeksi tambahan untuk penghuni yang tidak sehat dan tidak dirawat di rumah sakit, seperti menyarankan para penghuni agar memakai masker dan tetap terisolasi, serta membatasi kunjungan.

Menyediakan Dukungan yang Memadai untuk Difabel yang Memiliki Kebutuhan yang Kompleks

  • Identifikasi difabel dengan kebutuhan yang lebih kompleks, dan bekerja bersama mereka, keluarga mereka, dan lembaga pendukung masyarakat, untuk mengidentifikasi kemungkinan ketika jumlah pendamping terbatas atau tidak ada.
  • Identifikasi potensi peningkatan kekerasan, pelecehan dan penelantaran terhadap difabel karena isolasi sosial dan gangguan pada rutinitas sehari-hari; mendukung upaya mitigasi dari risiko ini, misalnya menyediakan hotline yang dapat diakses untuk melapor.

TINDAKAN UNTUK KOMUNITAS

Langkah-langkah perlindungan dasar yang akan diterapkan oleh khalayak ramai

  • Ikuti panduan yang disiapkan oleh WHO tentang langkah-langkah perlindungan dasar terhadap COVID-19. Pikirkan risiko COVID-19 dengan serius; bahkan jika Anda, diri Anda sendiri, mungkin tidak memiliki gejala serius yang berisiko tinggi, Anda tetap bisa menularkan virus ke seseorang yang lebih berisiko.

Pengaturan Kerja yang Fleksibel dan Langkah-langkah Pengendalian infeksi yang harus Didukung oleh Pemberi Kerja

  • Ikuti panduan WHO untuk menyiapkan tempat kerja Anda aman selama Wabah COVID-19.
  • Jika memungkinkan, terapkan pengaturan kerja yang fleksibel yang memungkinkan karyawan difabel bekerja secara online. Pastikan mereka memiliki teknologi yang mereka butuhkan, termasuk produk bantuan apa pun yang biasanya tersedia di tempat kerja.
  • Jika teleworking tidak memungkinkan, pertimbangkan untuk mengizinkan karyawan difabel dengan gejala berat yang berisiko tinggi untuk pulang (termasuk cuti dibayar) hingga risiko infeksi berkurang. Cari tahu kebijakan dan dukungan pemerintah yang mungkin tersedia untuk pengusaha agar memudahkan penerapan langkah-langkah ini.
  • Pastikan aksesibilitas terhadap langkah pengendalian infeksi di tempat kerja, seperti tempat cuci tangan.

Peningkatan akses ke toko-toko akan disediakan oleh pemilik toko untuk populasi yang rentan

  • Pertimbangkan untuk menyediakan alokasi waktu untuk difabel atau orang rentan lainnya untuk mengakses toko; atau pertimbangkan cara-cara alternatif untuk memungkinkan difabel berbelanja (mis. jasa pesan antar, online shop).

Dukungan ekstra yang perlu diberikan oleh keluarga, teman dan tetangga untuk Difabel

  • Cek atau perhatikan difabel secara teratur  melalui tatap muka untuk membangun dukungan emosional dan praktis, menghormati pembatasan isolasi sosial yang mungkin ada.
  • Waspadai bagaimana Anda berbicara tentang COVID-19, dan jangan memperburuk ketegangan atau stress yang ada[].

[1] Dokumen ini diterbitkan oleh WHO dalam edisi berbahasa Inggris, untuk memastikan warga difabel mendapatkan perhatian selama masa di mana semua pihak sedang memerangi Pandemi Penyakit akibat Virus Corona atau Covid19. Dokumen ini kemudian diterjemahkan oleh Juliana Ham, dari HEC (Hasanuddin English Club) yang merupakan mitra Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) dan kemudian diperiksa bersama oleh sejumlah aktivis disabilitas, diantaranya Tulix, Nuning, Ishak dan Joni.

Dalam dokumen ini, istilah yang digunakan adalah difabel, yang secara literal bermakna orang yang memiliki kemampuan berbeda berdasarkan sejumlah keunikan personal  dan secara ideologis juga dimaknai sebagai identitas politik pergerakan disabilitas khas keindonesiaan. Dalam regulasi terkait disabilitas di Indonesia, istilah yudisial yang digunakan adalah penyandang disabilitas, yang merupakan pengganti dari istilah legal sebelumnya yang disebut penyandang cacat, sebagaimana tercantum dalam UU No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *